Menanam Pohon, Merawat Bumi.
- Mar 31, 2023
- Desa Tohe
- BERITA, LINGKUNGAN
We'roat, Wekrame A, Tohe-Futukesi - Merawat bumi berarti merawat kelanjutan hidup dari binatang melata sampai kerabat dekat bonobo [Manusia]. Bahwa karena manusia bagian dari alam, Bahwa karena tidak ada planet yang selayak bumi untuk ditinggali, Bahwa merawat bumi bukan [hanya] tanggung jawab sebagian manusia tetapi merawat bumi harus oleh seluruh manusia yang mendiaminya. "Ada harmoni rahasia antara bumi dan orang-orang yang memeliharanya, dan ketika masyarakat yang tidak bijaksana membiarkan diri mereka melanggar harmoni ini, mereka akan menyesalinya." Tidak ada ahli ekologi kontemporer yang tidak setuju dengan pendapat di atas bahwa pria dan wanita yang benar-benar beradab memahami bahwa sifatnya terkait dengan kepentingan semua dan dengan kepentingan alam.
Awal tahun 2023, aksi tanam pohon dan peduli lingkungan cukup ramai di berbagai media sosial di kabupaten Belu yang menunjukkan bahwa kesadaran akan gerakan melindungi alam mulai terbangun (Sebelumnya mungkin sudah ada kesadaran tersebut) di sanubari masyarakat. Begitu pun dengan warga desa Tohe-Futukesi bersama camat Raihat dan aparatur desa serta beberapa institusi dari TNI/POLRI, SMAK Raihat turut mengambil langkah konkret dalam aksi tersebut. Sulioan, Senin (20/03).
Wilayah Sulioan (Khususnya We'roat) mengalami dampak cukup serius akibat longsor yang menyebabkan sumber air yang menjadi kebutuhan primer ratusan keluarga menjadi putus total. Awan dan air terus berulah dan mengalir tiada henti selama beberapa minggu terakhir yang memberikan kehidupan sekaligus bencana pada semua makhluk menyadarkan kita bahwa krisis iklim harus menjadi perhatian bersama.
Aksi penanaman dimulai dari Wekiik dimana sumber air berasal hingga menuruni lereng cekung embung yang berada di bawah bukit, Pohon yang ditanam berupa Jati dan lainnya. Gerakan menanam bersama dari pukul 08.00-10.00 WITA tersebut berakhir dengan lancar. semua mengalir begitu saja seperti sedang bermain tiktok tanpa partitur dan dirijen hanya diawali dari gerakan tangan lalu semuanya mengalir.
Manusia dan alam seperti ikan hidup di air dan tidak sadar akan air. Setelah sadar, akan seperti orang yang naik kerbau mencari kerbau lalu kembali ke rumah dengan ceria sambil menunggang kerbau yang sama.
"Yuk bisa, kita bisa ju" dimulai dari pikiran akan menjadi perkataan, perbuatan, kebiasaan, karakter, dan akhirnya menentukan masa depan Tohe-Futukesi dan Raihat kedepannya.